March 02, 2005

KRRRRiiiiiiiiiiiiNNGGGG!!!!!!!



"Hallo, Assalamu’alaikum."

Hallo... aku cuuma pingin denger suaramu. Lega deh, pokoknya sesumpek apapun aku, kalau udah ketemu atau denger suaramu aku gak sumpek lagi. Udah ya, thanks. Assalamu’alaikum."

Beberapa hari yang lain, saat matahari begitu menyengat ubun-ubun, tiba-tiba... KRRRRiiiiiiiiiiiiNNGGGG!!!!!!!
"Hallo, Assalamu’alaikum."

Hallo... aku Cuma pingin denger suaramu. Lega deh, pokoknya sesumpek apapun aku, kalau udah ketemu atau denger suaramu aku gak sumpek lagi. Udah ya, thanks. Assalamu’alaikum."

Terulang dan terulang terus sampai aku gerah dan hampir mual. Awalnya hanya perhatian karena aku prihatin dengan jalan hidupnya yang harus berjuang sendiri menghidupi tiga anaknya. Tahun-tahun awal kita masih dapat menyayangi dalam batas yang wajar. Hingga akhirnya menjadi ketergantungan yang menyesakkan. Jujur aku kesal, tapi aku juga merasa bersalah karena tanpa sadar aku sudah membiarkan dia tergantung padaku. Ya Allah, hamba mohon ampun.

"Kamu harus tegas sekarang. Jagalah jarak dan tidak usah terlalu meresahkannya." Begitu saran Abhi padaku.

Mulai aku mencoba menghindar sehalus mungkin yang aku bisa dari pertemuan dengannya. Seandainyapun terpaksa harus bersua, aku mencoba untuk tidak begitu memberi perhatian yang selama ini aku berikan untuknya.

"Kamu kenapa, kok sekarang kaku banget sih sama aku?" Begitu tanyanya saat aku tak bisa lagi menghindar.

"Maaf, aku lagi capek. Aku lagi pingin sendiri." Jawabku dengan enggan

Hari berganti hari, hingga tiba saat aku bisa mengatakan apa yang sebenarnya mengganjal di hatiku.
"Maaf, aku sudah salah membuatmu tergantung pada selainNya. Maafkan juga kalau aku harus undur agar kamu bisa lebih fokus denganNya. Tolong, mulai saat ini apapun yang menyesakkanmu jangan kau ceritakan pada siapapun. Adukan hanya padaNya. Menghanyalah hanya padaNya."

Dia terdiam, dan mencoba mengelak apa yang coba aku utarakan. Hingga akhirnya dia diam dan pergi meninggalkanku.

Puaskah aku?..entah. Karena aku sudah tidak begitu mahir lagi mengenali ekspresi jiwaku. Yang ada hanya kerinduan yang semakin memuncak untuk sendiri dan sendiri. Hingga suatu saat rinduku padaNya menemu telaga.
Kapan...?