APA YANG KAMU LAKUKAN KALAU KAMU JADI AKU?
"Apa yang kamu lakukan kalau kamu jadi aku. Aku punya teman baik yang rela jadi second wife. Calon suaminya aku kenal baik, istri pertamanya pun aku kenal baik. Aku bingung harus bersikap bagaimana. Aku tidak bisa meninggalkan temanku, tapi aku tidak enak dengan si first wife. Bla... bla... bla..." Begitu seorang kakakku bertanya.
Aku sejenak terdiam dan aku tak bisa berkata walau benakku sibuk berkata-kata. Itu bukan urusanmu. Tetap baik pada semuanya, jaga agar tidak memihak dan kalau tidak bisa ya jaga jarak atau menjauh dengan perlahan."
Aku jadi ingat dengan empat percakapan dalam waktu yang berbeda tentang topik poligami. Percakapan pertama saat aku masih kuliah semester awal. Aku jadi panitia Maulid Nabi untuk pertama kali. Karena aku jadi sie keamanan, aku duduk di belakang sendiri ketika acara di mulai. Tiba-tiba ada yang duduk di sebelahku dan bertanya "Kalau nanti suamimu mau kawin lagi, kamu siap ndak??? Nah... loh, saking kagetnya aku cuma bisa pandang si penanya dengan bengong. (Aduh mas... kamu itu cakep-cakep nanyanya kok ya gak pake kata pengantar dulu sih. Ini mau ngetes apa nanya beneran ya...?) Alhasil aku akhirnya terlibat silang kata dengan seniorku itu. Aku sibuk mengajukan syarat-syarat yang diperbolehkan agar seorang laki-laki boleh berpoligami. Intinya sih... bisa adil gak sih yang mau berpoligami itu dan silang kata itupun akhirnya terputus tanpa kesimpulan.
Percakapan kedua adalah dengan adik kostku yang unik, tujuh tahun setelah percakapan pertama. Kami senang silang kata tentang kesiapan kita melalui garis hidup yang sudah ditentukanNya. Kami mulai masuk dalam topic kira-kira siapa yang dipersiapkanNya untuk kami sebagai jodoh.(Kami berdua memang memutuskan untuk menyerahkan sepenuhnya pada kehendakNya untuk jodoh kami). Bagaimana kesiapan kami kalau akhirnya yang dipersiapkanNya tidak sesuai dengan harapan para orang tua kami. Bagaimana kalau jodoh kami adalah duda. Dan... bagaimana kalau jodoh kami adalah pria yang sudah beristri... Percakapan ini dipicu oleh pertemuan tak sengaja dengan seniorku yang masih tetap cakep dan sendiri di sebuah bis antar kota (mungkin dia masih mencari istri yang mau dipoligami... Entah... Yang kulihat wajahnya tak secermelang dulu). Kami sepakat untuk memakai alat-alat yang sudah disediakanNya untuk mencari tahu apakah memang ini kehendakNya atau nafsu kami semata sebelum kami menikah nanti.
Singkat cerita kami berpisah setelah sebelumnya aku telah dipertemukanNya dengan Abhi. Setelah sekian lama tak bersua, entah aku tergerak untuk mencari tahu kabar tentang adikku ini. Subhanallah, ternyata diapun bertemu dengan suaminyapun dengan caraNya yang luarbiasa. Dia baru menimang buah cinta mereka saat aku mencari kabarnya. Dia mengingatkanku tentang percakapan-percakapan kami dulu.
Percakapan ketiga adalah dengan teman masa kecilku yang mempunyai cita-cita cari istri yang rela kalau dia menikah lagi (waduh...). Aku ketemu dia lagi saat aku sedang menanti. Dia sibuk bercerita tentang dirinya karena kami berpisah saat kami masih di sekolah dasar. Singkat cerita aku begitu panik saat dia bercerita dengan penuh semangat "Sudah kutemukan jodohku. Mama dan Papa akan segera melamarnya dalam seminggu ini. Bulan depan kami akan menikah." Waduh... Aku jadi teringat cita-citanya. Bisa dibayangkan betapa cerewetnya aku pada temanku itu "Kamu jangan ngecewain dia ya, kamu jaga perasaan dia ya, awasloh kalau dia kenapa-napa. Dia begitu perempuan... bla... bla... bla..." Temanku bengong dan bilang Non, kamu kan belum ketemu dia. Kok bisa detail gitu sih?..." Ternyata aku belum siap kalau ada orang dekatku yang berpoligami. Alhamdulillah temanku belum melaksanakan cita-citanya sampai sekarang.
Percakapan terakhir adalah dengan Abhi. "Bhi..., kamu gak ada rencana nikah lagi???... (Jujur, aku memberanikan diri bertanya itu). Abhi terdiam sejenak dan menguraikan "Kita kan sedang belajar untuk mengeliminir nafsu kita, biar hanya kehendakNya semata yang berjalan pada kita. Jadi, ya aku akan coba untuk ingat itu dan selalu mengembalikan pada pertanyaan apakah itu nafsuku atau betul-betul kehendakNya? Mungkin akan sulit untuk bisa seadil Nabi, jadi mengapa mengambil jalan yang kita tahu kita tidak bisa melaluinya dengan selamat? Mengapa kamu bertanya hal itu?" Aku menceritakan percakapan-percakapan ku dengan teman-temanku tentang hal itu.
Jika kita dihadapkan pada pilihan itu, apa yang harus kita lakukan...? Terserah masing-masing memilih. Aku hanya bisa berharap semoga kehendakNyalah yang berjalan.