RELUNG RENUNGAN
bagian ke (vi) dan terakhir dari (vi) tulisan
Saat masuk ruangan, seluruh perhatianku langsung terserap ke satu titik, Papa. Tak ada kata yang bisa mengungkapkan semua perasaan yang bercampur aduk waktu itu. Air mata menitik saat aku bersimpuh dan memohon ridhonya untukku. Aku hanya bisa berbisik dalam hati maafkan wied ya Pa, wied udah banyak nyusahin Papa. Saat Papa sakitpun wied tak bisa bantu apa-apa. Air mataku semakin deras mengalir saat beliau hanya bilang Saya tidak sakit dan memandangku dengan kasih setelah sebelumnya mengusap kepala Najla, seperti biasanya. Subhanallah... Betapa sabar Papa menanggung sakitnya. Dalam isakku aku berbisik pula Ya Allah, begitu ingin aku bersimpuh di depan Papa tapi aku tercabik-cabik melihat keadaan Papa yang dengan ijinNya menerima salam kami dengan duduk. (Saat sehat, beliau tak pernah mengijinkan kami anak-anaknya untuk bersimpuh di depannya).
Setelah selesai dengan Papa, aku berdiri dan langsung dipeluk Mama. Aku sudah tak bisa lagi menahan tangisku. Tangisku tumpah, meluap dan tak terbendung hingga aku dipeluk dengan sangat erat saat sampai di depan adik Mama. Giliran selanjutnya aku sudah tak bisa lagi mengucapkan maaf lahir batin, pandanganku sudah kabur dan ingin segera berlari dari kerumunan orang. Aku ingin menuntaskan tangisku tanpa lebih banyak lagi orang yang tahu.
Ya Allah, andai aku yang Kau coba seperti itu, mungkin aku takkan bisa sesabar Papa. Dalam sakitnya pun Papa masih berdoa untuk kami, mensupport kami dan meyakinkan kami bahwa Beliau baik-baik saja. Papa memang tak pernah mengijinkan kami menangis untuk beliau. Beliau hanya menginginkan tangis, dan semua laku kami hanya untukNya.
Thanks Pap, untuk semua kasih yang Papa beri untuk kami.
Ya Allah, semoga Kasih dan SayangMu terlimpahkan untuk Papa dan keluarganya. Seperti Kasih dan SayangMu untuk para kekasihMu.
Saat masuk ruangan, seluruh perhatianku langsung terserap ke satu titik, Papa. Tak ada kata yang bisa mengungkapkan semua perasaan yang bercampur aduk waktu itu. Air mata menitik saat aku bersimpuh dan memohon ridhonya untukku. Aku hanya bisa berbisik dalam hati maafkan wied ya Pa, wied udah banyak nyusahin Papa. Saat Papa sakitpun wied tak bisa bantu apa-apa. Air mataku semakin deras mengalir saat beliau hanya bilang Saya tidak sakit dan memandangku dengan kasih setelah sebelumnya mengusap kepala Najla, seperti biasanya. Subhanallah... Betapa sabar Papa menanggung sakitnya. Dalam isakku aku berbisik pula Ya Allah, begitu ingin aku bersimpuh di depan Papa tapi aku tercabik-cabik melihat keadaan Papa yang dengan ijinNya menerima salam kami dengan duduk. (Saat sehat, beliau tak pernah mengijinkan kami anak-anaknya untuk bersimpuh di depannya).
Setelah selesai dengan Papa, aku berdiri dan langsung dipeluk Mama. Aku sudah tak bisa lagi menahan tangisku. Tangisku tumpah, meluap dan tak terbendung hingga aku dipeluk dengan sangat erat saat sampai di depan adik Mama. Giliran selanjutnya aku sudah tak bisa lagi mengucapkan maaf lahir batin, pandanganku sudah kabur dan ingin segera berlari dari kerumunan orang. Aku ingin menuntaskan tangisku tanpa lebih banyak lagi orang yang tahu.
Ya Allah, andai aku yang Kau coba seperti itu, mungkin aku takkan bisa sesabar Papa. Dalam sakitnya pun Papa masih berdoa untuk kami, mensupport kami dan meyakinkan kami bahwa Beliau baik-baik saja. Papa memang tak pernah mengijinkan kami menangis untuk beliau. Beliau hanya menginginkan tangis, dan semua laku kami hanya untukNya.
Thanks Pap, untuk semua kasih yang Papa beri untuk kami.
Ya Allah, semoga Kasih dan SayangMu terlimpahkan untuk Papa dan keluarganya. Seperti Kasih dan SayangMu untuk para kekasihMu.