January 10, 2005

INGIN KU PINJAM SABAR ITU



8 Januari 2005

"Kok kamu lama gak nulis?" Tanya abhi saat aku sedang termenung.
"Lagi gak ada yang bisa kutulis, kosong aja." Jawabku.

Apa yang mau kutulis? Aku sendiri gak ngerti kenapa aku begitu blank, kosong bahkan cenderung negatif. Aku hanya bisa termenung tanpa tahu apa yang sedang berkecamuk dalam benakku. Aku kembali suka mengamati hiruk pikuk orang tanpa aku terikut dalam hingar bingar itu. Jika tidak, aku akan teronggok di suatu sudut yang sangat sepi tanpa melakukan apapun. (betapa mengerikan, aku nyaris tidak produktif)

Aku merasa tidak melakukan apapun yang berarti untuk bekalku nanti dalam setahun kemarin. Seandainya ada yang memujiku karena telah mengajari buah hatiku hingga dia bisa melahap buku dalam usia belum genap tiga tahun, akupun tetap merasa tidak melakukan apapun. Aku lebih merasa kehendakNyalah yang membuatnya bisa seperti itu, sedang aku hanya menemaninya dengan kesabaranku yang tak seberapa. Jadi apa yang harus kubanggakan dari aku. Aku benar-benar nyaris kehilangan Nyala itu.

"Apa yang kamu ingin? Apa yang bisa membuatmu kembali bersinar?" tanyamu.

Hanya satu yang aku ingin dan terasa begitu sulit untuk kuraih. Aku begitu ingin mendapatkan izinmu untuk kembali berjihad memerangi diriku sendiri di jalanNya yang begitu aku rindukan. Aku ingin bisa merasakan kembali hangat pelukanNya, asyik masyuk berbincang denganNya hingga aku dapat menemukan Nyala itu lagi. Aku ingin ijinmu untuk masuk ke dalam bilik rahasia dan menelikung jiwaku kembali di dalamNya. Bukankah kaupun punya bilik rahasia itu? (dan kitapun berharap buah hati kita pun punya bilik itu nanti).

Ya, Allah. Hamba betul-betul mengharap keajaiban dariMu hingga hamba mendapatkan ijinMu untuk kembali mesra denganMu. Kembali dapatkan terangMu, sabarMu, ilmuMu dan... kemanjaanku padaMu. Kapankah...?

Trimakasihku yang tak terhingga atas izinMu memberiku sedikit waktu dan ruang sepi di antara riuh rendah dan kebisingan yang begitu sering melingkupku. Tapi maafkan aku kalau aku betul-betul ingin waktu dan ruang khusus untuk merasakan sepi yang bening denganMu.

Semoga aku Kau pinjamkan sabarMu yang tak bertepi untuk tetap menanti saat itu tiba.