November 11, 2004

RELUNG RENUNGAN



Maafkanku teman, kalau kisahmu kutulis untuk mengingatkanku betapa aku juga bebal kalau tak semakin dekat denganNya.

(i)

"Aku harus ke mana??? Aku harus gimana??? Aku nggak punya siapa-siapa di sini". Begitu keluh yang diucapkan di sela isak tangisnya. Sedang aku hanya bisa tercekat tanpa bisa menjawab semua pertanyaannya walau hatiku sudah ribut menjawab. Kelu lidahku melihat keputusasaannya. (Aduuuh... Kamu kan punya Dia temanku, mengapa Dia diabaikan saat kamu sedang sempit begini...??? Mohonlah padaNya, bertanyalah padaNya...!!!! Begitu protes hatiku yang tidak dapat tersuarakan).

Sampai saat ini aku belum dapat berkomunikasi lagi dengannya. Aku hanya dapat berharap semoga dia diijinkan untuk kembali pulang ke rumahNya tempat dia dan aku bersua pertama dulu. Tempat kami saling mengasihi dan menguatkan karenaNya. Tempat yang terindah yang pernah kutemui.

(ii)

"Ada berita, Oom sudah kembali awal oktober lalu. Aku sudah telpon Tante, kita diharapkan datang besok". Berita yang dibawa Abhi saat kami selesai berbuka di awal ramadhan begitu mengejutkanku - walau aku sudah pernah mengutarakan kegundahanku melihat kondisi Oom pada Abhi Agustus lalu. Ingatanku mengembara kembali saat aku kelas satu SMA. Pertama kali bertemu keluarga Oom dan Tante. Oom sangat sedikit bicara tapi aku tahu beliau sangat sayang pada keluarganya, termasuk aku. Tidak banyak yang Oom pesan untukku, tapi pesan yang selalu aku ingat adalah "Papamu sebetulnya bangga dan sayang padamu, tapi pahamilah keterbatasannya dalam mengungkapkan perasaan itu padamu. Jangan terlalu banyak menuntut darinya, kamu akan lebih bahagia dengan apa yang kamu usahakan sendiri nanti bersama keluargamu.

Saat aku bertemu lagi dengan Tante, aku menyimpan tangisku dalam kekagumanku pada Tante. Beliau telah ridha akan kehendakNya. Tak ada air mata, yang ada hanya luapan kasih yang membuncah untuk Oom."Oom sudah senang di sana Wied, Tante senang saat-saat akhir Oom damai. Tante sudah cukup diberiNya kesempatan berbahagia dengan Oom. Jangan sedih ya" - semoga aku bisa.

(iii)

"Mbak..., aku kangen sekali sama Papa. Aku pingin banget ketemu lagi sama Papa walau cuma lewat mimpi. Bisa nggak ya Mbak...???"
"Kalau kamu sayang Papa, banyak doa untuk Papa. Buat Papa bangga dengan banyak beribadah. Apapun bisa kamu jadikan sebagai ibadah. Studimu, keluargamu nanti dan kehidupanmu. Itu tabungan Papa dari kamu - juga tabunganmu".
"Memang Papa bisa lihat kita mbak?"
"Insyaallah..."
"Bisa nggak ya aku ketemu Papa lagi, mbak?..."
"Banyak doa aja ya non, jangan bebani Papa dengan hal-hal yang bukan lagi urusan Papa. Jangan kayak mbak dulu...?"
"Memang kenapa mbak?...
Percakapan kecil itu mengingatkanku akan Eyang putri. Eyang pulang saat aku masih SMP. Aku cucu kesayangannya. Aku sangat tergantung padanya. Umur enam bulan aku mulai diasuhnya. Aku akan demam kalau aku dipisahkan dari Eyang.

Sebelum Eyang berpulang, beliau sempat menitip pesan pada banyak orang untuk menjagaku - itu aku tahu setelah aku besar. Yang aku tahu setiap aku sedih atau berbeda pendapat dengan Papa atau Mama, Eyang selalu datang menengokku dalam mimpi. Eyang akan duduk di kursi itu dan aku meletakkan kepalaku di pangkuannya. Atau aku berkunjung ke rumah mungil Eyang yang berjendela lengkung dan tak berpintu. Bahkan pernah aku bermimpi bersua beliau dalam mimpi.

Mimpi-mimpi itu berlangsung sampai aku berumur duapuluhan. Saat terakhir itu beliau hanya berpesan "Kamu sudah besar, Eyang sudah nggak kuat lagi. Baik-baik ya". Beliau mengengokku lagi saat aku kenal dengan Abhi, beliau hanya tersenyum dan menghilang. Kasihnya sangat besar untukku, sedangku belum cukup membalasnya. Maafkan aku Eyang. Semoga Eyang bahagia di sana.

(iv)

"Kenapa dia dikasih sakit seperti itu sih mbak...??? dia kan baik banget."
"Hidupku kok susah melulu sih non, rasanya untuk bernapaspun sulit."
"Aku dulu sangat kaya, tapi aku sekarang gak punya apa-apa... Orang-orang mencibirku, mencelaku. Kok nggak ada habisnya ya cobaan untukku."
"Bl...bla...bla..."
. Begitu mereka bercerita padaku.

Cobaan, sakit atau apapun yang menurut kita pahit sebenarnya adalah penawarNya. Sadar atau tidak kita sering melakukan kesalahan. Agak sulit memang mengucap Alhamdulillah di saat kita merasakan kepahitan. Tapi itu lebih baik dari pada kita mengecap kepahitan itu dalam waktu yang tak terhingga, nanti!! (semoga kita selalu mendapat pengampunanNya)

(v)

Saat kita menyisihkan sebagian kecil rizki di jalanNya, apa yang kita pikirkan??? Adakah patut kita berpamrih padaNya? Sedang kita sudah diberi banyak kenikmatan yang kita sendiripun tak mampu membilangnya satu per satu.