August 16, 2005

PADA SEBUAH DISKUSI - 2



Sharing kedua adalah tentang keluarga yang sakinah.

Salah satu contoh suami istri yang saling mengasihi adalah Pasangan Habibie. Habibie bilang ada dua wanita yang luar biasa dibelakang kesuksesan saya. Ibunya sendiri dan ibu dari anak-anaknya. Dia pernah mengungkapkan suatu joke yang cukup menyentuh yaitu "saya tidak takut dipecat dari pekerjaan saya ini, tapi saya lebih takut kalau dipecat oleh istri saya." Saat dia sudah tidak aktif lagi, waktunya dihabiskan untuk merawat istri tercintanya yang sedang sakit.

Indah bukan rumah tangga yang dibangun diatas pondasi saling menghargai diantara suami dan istri. Memanusiakan satu sama lain. Tidak ada saling tindas. Tidak ada sikap ego. Saling melengkapi seperti kepingan-kepingan puzzle abstrak yang akan menampakkan guratan yang bermakna jika pas satu sama lain.

Bisakah para perempuan mempunyai suami seperti Habibie??? Jawabannya adalah "Bisa!!!!!" Caranya mudah kok, "jadilah seperti Ainun Habibie, maka suamimu akan menjelma menjadi seperti Habibie."

---o0o---

"Kok sepertinya perempuan yang selalu dituntut untuk baik ya??? Harus lebih sabar, harus lebih bisa mendengarkan dari pada didengarkan, harus menjaga ini dan menjaga itu. Bla... bla... bla..." Begitu dengungan lebah yang mampir ke telingaku.

Tapi disitulah mulianya seorang perempuan. Di atas pundaknya yang ringkih terletak tanggung jawab untuk membuat para lelaki menjadi baik dan perempuan selanjutnya pun dapat membuat para lelaki selanjutnya baik.

August 15, 2005

PADA SEBUAH DISKUSI



Tanpa aku sangka, aku diberi kesempatan untuk menjadi pendengar di sebuah acara sharing pengalaman. Pemakalah adalah Beliau yang amat concern dengan pembentukan keluarga sakinah dan islam kaffah (InsyaAllah apa yang Beliau amalkan terpancar dari wajah dan segala laku Beliau). Kebetulan pula istri Beliau pun ikut dalam acara itu. Cinta kasih selalu terpancar dari wajah Beliau berdua. Isi makalah disampaikan dengan lembut, tidak dengan intonasi yang meninggi seperti kebanyakan aku dengar setiap ada acara pengajian. Betul-betul aku mendapatkan lagi pemahaman Islam yang lembut, Islam yang indah dan Islam yang penuh cinta. Sebagian kecil yang aku tangkap coba aku bagi kepada kalian, teman-temanku. Semoga bisa menjadi pelipur hati.

Saya prihatin ketika mendengar ada saudara saya yang mempunyai amalan yang banyak tapi hidupnya tidak bahagia. Ada istri yang dianiaya secara emosional oleh suaminya. Suaminya sudah berlaku sombong karena dia sudah merasa berhak atas diri istrinya. "Aku kan sudah capek mencari nafkah, boleh dong aku minta dilayani istriku. Tak tahu diri dia kalau tak mau melakukan apa yang aku suruh."

Ada suami yang terjajah istrinya. Istri tidak patuh kepada si suami karena dia merasa lebih dari suaminya. Ah... apalah bisanya suamiku itu. Kalau tak ada aku, mau dikasih makan apa keluarga ini." Ada Haji yang suka mangkir janji dan korupsi pula. "Tak apalah korupsi asal tidak lupa untuk bersedekah sana-sini." Begitu katanya. Ada perempuan yang tertutup rapat auratnya tapi dia suka selingkuh. Mereka minta nasehat dan berobat ke mana-mana, tapi setelah obat mereka kerjakan tetap aja suami istri itu berpisah, si Haji itu bangkrut dan masih banyak lagi kisah yang membuat hati saya miris. (Sebetulnya tidak ada orang yang meminta nasehat kecuali dia ingin mencari pembenaran atas semua yang dia perbuat. Tanya dan jawablah dengan jujur pada dirimu sendiri).

Sebetulnya kalau kita bisa mengamalkan Islam secara Kaffah, insyaAllah semua kisah di atas itu tak akan terjadi. Karena janji Allah, Islam adalah agama yang sudah disempurnakan untuk hambaNya. Jadi mengapa agama yang sempurna ini membuat mudharat?... Pasti ada yang salah. Kesalahan bukan pada agama tapi pada yang menjalani.

Jadi..., apa itu Islam?

Islam itu adalah semua perbuatan dan perkataan Rasulullah dari mulai Beliau semenjak diangkat sebagai rasul sampai Beliau wafat. Apa yang ada dalam diri Beliau itu adalah cerminan Islam seperti yang diwahyukan Allah dalam Al-Qur’an. Islam kaffah itu terdiri dari islam, keimanan dan akhlak mulia (ihsan). Jadi kalau ada orang ber-Islam tapi masih melakukan yang mungkar-mungkar berarti dia masih belum ber-Islam secara kaffah.

Mengapa saya berbicara di forum ibu-ibu? Karena saya menginginkan yang terbaik buat ibu-ibu. Di tangan para ibu inilah akhlak manusia-manusia kecil dibentuk. Merekalah yang akan menjadi prajurit-prajurit Islam di garis depan. Marilah kita melihat ke dalam diri kita sendiri, kenali diri. Selalu berubah menjadi lebih baik dari hari ini dan kemarin. Jadikanlah Rasul sebagai tolok ukur kita dalam berakhlak.

Jangan pernah bilang kita sudah sabar kalau kita baru dimaki orang sudah mendidih ubun-ubun kita. Baru diludahi orang kita sudah ikut balik meludah. Kalau tolok ukur sabar kita adalah Beliau, maka kita masih sangat jauh dari sifat sabar itu sendiri.
Ternyata banyak sekali PR kita, tapi Allah telah berjanji Tidak akan berubah nasib suatu kaum kalau dia tidak berusaha untuk merubahnya sendiri. Jadi mengapa tidak kita coba...?

Terkadang si suami atau istri atau siapapun akan berujar "apa nggak tambah ngelunjak kalau saya mencoba sabar?

Percayalah, kalau kita memberinya dengan penuh cinta dan penuh kelembutan insyaAllah semua akan menjadi baik adanya. Tidak ada lagi tetangga yang tidak bertegur sapa. Tidak ada lagi suami yang sombong terhadapa istrinya. Tidak ada lagi istri yang tidak patuh dan anak-anakpun tumbuh menjadi prajurit islam sejati yang penuh kelembutan. InsyaAllah... tidak ada lagi pemerintah yang menindas rakyatnya.


Diskusi ini terputus karena waktu yang sudah semakin larut. Aku mencoba melihat sekelilingku, semoga aku diijinkan kembali dan mendapat sesuatu yang berharga seperti hari ini. Alhamdulillah, terimakasih Allah atas izinMu aku dapat ada di sini. Semoga ini membuatku berubah menjadi lebih baik lagi.

InsyaAlloh akan dilanjutkan

July 14, 2005

ASI, ANAK MANUSIA DAN ANAK SAPI



"ASI untuk anak manusia, susu sapi untuk anak sapi." Aku dan abhi geli membaca himbauan yang ditempel di RSB tempat Najla lahir.

"Ibu-ibu, usahakanlah memberi asi eksklusif kepada bayi anda. Karena asi ibu tidak tergantikan oleh produk susu apapun. Tidak ada alasan asi tidak cukup, karena semua itu sudah di setting olehNya. Kunci keberhasilan dari memberikan asi adalah jangan panic, rileks, penuhi asupan gizi dan dukungan penuh oleh suami. Sebisa mungkin begitu bayi lahir segera tempelkan pada ibu agar refleks menghisapnya tidak hilang dan dapat segera merangsang keluarnya asi ibu. Kalau belum keluar jangan panic, terus rangsang dengan menempelkan mulut bayi pada area menyusu ibu. Bayi-bayi yang baru lahir diberi kemampuan untuk tahan tidak minum apapun selama 24 jam. Jangan lekas diberi susu kaleng, apalagi kalau memakai botol. Itu bisa membuat bayi malas minum asi. Kalau ibu bekerja, perah susu untuk persediaan si bayi. Dan minumnya jangan pakai botol ya Bu." Kata seorang dokter anak dalam sebuah acara talk show yang tak sengaja mampir ke telingaku. (Wah bukan iklan yang bagus untuk susu formula dan botol susu)

"Benar loh ibu, saat-saat indah itu tidak bisa diulang. Jangan takut gemuk atau milik ibu tidak indah lagi. Karena begitu hamil, memang sudah ada perubahan. Suami saya pernah menggoda saya kalau ingin tubuh yang tetap indah ya ndak usah punya anak. Begitu timpal host yang telah mempunyai anak tiga tapi masih tetap terlihat cantik.

---oOo---

Mendengar bincang-bincang itu membawaku kembali jauh ke belakang. Saat-saat di mana menantikan buah hati lahir. Banyak sekali buku yang aku baca untuk mempersiapkan mentalku menghadapi saat-saat yang dinantikan. Alhamdulillah “Mama” tidak henti mensuportku dengan pengalaman-pengalaman Beliau melahirkan dan membesarkan kedua putra yang sudah menjadi panutan kami juga.

Saat pertamakali najla lahir, wuuuiiiih senengnya gak ketulungan. Alhamdulillah Bapak bisa menengok cucunya lahir. Pertama kali menyusui najla aku panik, karena air susuku tidak keluar. Setelah berhasil aku lebih panik lagi karena Najla tidak berhenti BAB setelah menyusu.

"Aduh..., jangan-jangan diare nih anakku. Gimana nih..??!!!?"
Abhi yang sama paniknya denganku menoleh Bapak. Bapak hanya bisa menyarankan kami bertanya pada dokter anak. Waduh... ternyata Bapak sendiri sudah lupa bagaimana mengurusku waktu bayi dulu.

Sebulan pertama setelah najla lahir adalah saat-saat yang paling norak abis. Buku yang aku baca semakin membuat aku panik kalau Najla kenapa-napa. Abhi dan Mama yang sering jadi sasaran kepanikanku (maaf ya Bhi, maaf ya Ma). Sebentar-bentar aku telpon mama atau abhi untuk membagi kepanikanku menghadapi najla seorang diri tanpa ada referensi hidup yang dapat kutanyai sewaktu-waktu.

"Ma, najla kok BAB terus sewaktu mimi asi? Sudah wid bersihin, tapi kok keluar lagi. Diarekah dia Mam???"

Dengan lembut Mama tertawa dan menjawab "kan memang belum sempurna pencernaannya wid. Mungkin dia belum selesai BAB-nya, jadi ya masih keluar lagi."

"OooooooOOhhh..., thanks ya mam."

Lain waktu aku telfon abhi "Bhi..., najla kok muntah ya setiap jam 9 pagi. Byoorrr gitu, banyak banget.
"Waduh... aku gak ngerti mi. Coba kamu tanya Mama deh." Begitu jawab abhi sama bingungnya. Langsung deh aku telpon Mama dan menyerbunya dengan kepanikanku.

"Mungkin dia terlalu kenyang wid, jadi muntah. Lambungnya kan masih kecil." Begitu mama menenangkanku.

"OooooooOOOhh..., hihihi...thaks ya mam."

Tujuh bulan sudah umur Najla. Tiba-tiba dia tidak mau minum asi, kucoba susu formula juga tidak mau. Waduh betapa sedih dan paniknya aku. Kata dokter, Najla sehat dan tidak ada gangguan disaluran pernafasan yang membuat dia enggan untuk minum susu. Temanku bilang, "Sudah sekalian disapi saja. Simple kan. Orang lain bingung nyapi anaknya, kamu kan enak najla sudah gak mau."

Mendengar opini itu aku nangis sejadi-jadinya. Masak sih aku gak dizinkan memberi asi sampai Najla dua tahun. "Bhi..., tanya Papa dan Mama yuuuuuk." Begitu rengekku. Segera abhi mengunjungi Papa dan Mama.

Waktu abhi pulang aku langsung bertanya "Bagaimana bhi...???"

Abhi tersenyum dan bilang, "tenang saja. Berdoa sama Allah. Insyaallah besok Najla sudah pulih karena Najla gak sakit kata dokter. Itu biasa kok. Begitu pesan Papa dan Mama."

Alhamdulillah, Najla tidak jadi berhenti asi sampai dia berumur dua tahun tiga bulan. Yang tiga bulan adalah masa-masa mengurangi jatahnya minum asi sedikit demi sedikit.

Alhamdulillah hasilnya, najla tidak mudah sakit. Najla sangat aktif dan pintar. Jadi jangan ragu untuk memberikan asi selama waktu yang disunahkan Nabi.

Alhamdulillah, atas ijinNya, aku benar-benar bisa hanya memberi asi tanpa susu formula untuk Najla selama dua tahun. Juga untuk adanya abhi, Papa dan Mama serta Bapak yang tidak berhenti mensupport aku.

June 14, 2005

24 MEI 2005 : SAAT DAUN-DAUN GUGUR



Saat berita itu datang, aku hanya terpana dan menyorongkan hape pada abhi. Abhi segera bersiap dan menyuruhku mengabari saudara-saudara lain semampuku. Setelah beberapa yang berhasil aku ingat untuk ku kabari, aku berangkat. Bersama abhi dan najla. Sesampai di sana, begitu banyak muka pilu yang kulihat. Semua tatapan menerawang, entah jauh ke depan atau ke belakang. Terasa begitu berat, tapi tak begitu banyak tangis. Yang ada hanya wajah-wajah nirsuara hilir mudik. Semua yang mereka kerjakan seperti sudah diatur.

Sebetulnya ingin kuucapkan "sebentar sekali Engkau pinjamkan KekasihMu yang ini pada kami ya Allah... Belum puas rasanya kami memandang cemerlang wajahnya yang penuh kasih." Tapi tak jadi, sepertinya ada yang menahan aku untuk tidak protes dan tidak terlalu bersedih dengan kepulangan Beliau.

Aku ke tempat mama. Aku disambut dengan pelukan yang sangat erat dan lama. Ingin aku menangis sepuasnya, tapi ada yang menahanku menangis keras. Kami duduk dan mama bercerita pada kami tentang kepulangan Beliau. Kakak laki-laki yang sangat sayang pada mama dan almarhumah Papa.

"Itu adalah hal yang biasa sebetulnya. Tak bisa kalian bayangkan berapa banyak yang dipanggil pulang pada jam yang sama dan hari yang sama. Seperti daun-daun yang gugur mereka itu. Setelah tugasnya habis membuat makna untuk pepohonan. Kitapun akan bernasib sama. Pulang jugalah kita nanti. Tujuan akhir kita sama, pulang kembali padaNya. Hanya karena hal ini terjadi pada kita, maka kita gempar. Saya pun gempar, saya masih gemetar. Tapi kita harus tetap berpegang pada ajaranNya. InsyaAllah selamat kita. Jangan bersedih, semua sudah diatur olehNya. Semoga kita diampuni segala dosa dan dikuatkan sampai saat kita tiba. Semoga kita juga masuk dalam bentengNya."

"Ammiiiiin. Allahumma ammiiiin... Bisik kami menyambut doa Mama."

Esok hari saat Najla bangun, dia menangis. Terdengar begitu sedih, aku segera berlari ke dalam, memeluknya dan bertanya "Kenapa Nak...?"

Dengan terbata dia bercerita "Najla mimpi diajak jalan-jalan dan kasih makan ikan. Abhi dan ummi juga ikut. Habis itu Beliau pulang ke rumah Allah naik pesawat. Najla hanya bisa lihat sambil dadah."

Aku dan abhi hanya bisa bertukar pandang dan memeluk najla erat-erat. Mengajaknya berdoa semoga bila saatnya tiba kami diizinkanNya bersua lagi dengan Beliau dan para Penghulu terdahulu. Kembali berkumpul dalam rumahNya.

June 03, 2005

CERAI!!!



"Mbak dan mas, aku mohon doa agar pada sidang perceraian terakhir besok hakimnya bisa adil dan bisa melihat siapa di antara kami berdua yang bisa mendidik anak kami."

Ups... Gimana ya enaknya bunyi doa yang harus aku ajukan padaNya? Lah wong cerai kok ya minta doa sih...?!? Ini sebetulnya minta dukungan atau apa ya Bhi...?!? Antara kesal dan geli terhadap sms yang bunyinya seperti di acara gossip sana-sini itu. Akhirnya aku hanya bisa membalas "semoga yang menjalani diberi kekuatan dan bimbinganNya. Amin3x. Apapun keputusan besok adalah yang terbaik untuk anak kalian, semoga kalian berdua dapat ikhlas." Doa yang tidak diharapkan, karena tidak ada balasan meng-amini doa tadi. Tak apalah... resikonya jadi orang berusaha netral.

Adalagi cerita sewaktu aku masih kuliah. Ada seorang bapak yang kebetulan adalah pelatih beladiriku, sedang mengalami gonjang ganjing puber kedua. Di saat-saat yang lain sedang latihan aku dipanggil dan diminta mendengarkan ia bercerita. "Gimana ya dek..., istri saya itu bla... bla... bla... Saya sudah ndak tahan, kalau saya pisah bagaimana?" Gedubraks!!!

Waduh...gak salah nih. Akhirnya dengan garuk-garuk kepala aku hanya bisa menjawa, "ya terserah yang menjalani. Hanya satu yang saya ingin dari bapak, tolong pertimbangkan psikologi adek-adek kalau Bapak jadi pisah. Bapak dulu pernah mengalami getirnya masa-masa perceraian orang tua bapak. Apa bapak tega memberikan masa-masa yang sama itu kepada adek-adek...? Anak-anak broken home saat dia dewasa sepertinya normal-normal saja Pak, tapi mereka mempunyai lubang di hati mereka yang sulit sekali untuk sembuh. Banyak contohnya Pak, dan Bapak tahu itu." Dan... si bapak itu hanya bisa mengaruk-garuk kepala mendengar jawabanku yang tidak sesuai dengan harapannya itu.

"Wid, kemana semua cinta yang membuat mereka dulu memutuskan untuk menikah? Mengapa saat mereka memutuskan tak dapat seiring lagi semua borok di obral kesana kemari? Mengapa sih, mereka tidak dapat berpisah baik-baik seperti saat mereka memulai dulu dengan baik-baik??" Begitu seorang temanku pernah bertanya padaku. Dan... aku tetap dengan menggaruk kepala menjawab, "loh kok tanya aku sih...? Ya mbok tanya mereka saja mas, hehehe..."

-----
Cerai atau perceraian. Kata-kata itu pernah membuatku marah dan bertekad tidak akan membuat anak dan cucuku mengalaminya. Kegetiran dan kemarahan dari sebuah perceraian selalu diserap lebih sempurna oleh pihak paling lemah, anak. Mereka tidak bisa memahami mengapa mereka harus hidup terpisah dari ayah atau bundanya. Belum lagi kalau ayah atau bundanya menyimpan bara api yang tak kunjung padam sampai si anak dewasa. Si anak biasanya akan tumbuh tidak normal secara psikologis. Perlu perjuangan yang menyakitkan untuk bisa sembuh dari trauma perceraian. Terutama perceraian yang disertai permusuhan yang terpelihara sampai anak dewasa dan berkeluarga sendiri.

May 18, 2005

OBAT HATI



Tombo ati iku limo sak wernane.
Kaping siji moco Qur’an sak maknané.
Kaping pindo sholat wengi lakonono.
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono.
Kaping papat weteng siro ingkang luwé.
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwé.
Salah sak wijiné sopo iso ngelakoni.
Insyaallah Gusti Alloh ngijabahi.


Lamat-lamat lagu yang sering diputar salah satu stasiun TV swasta setelah Tsunami mampir dan menggelitik telinga hatiku. Ingatanku kembali ke belakang, saat aku pertama kali mendengar kabar Papa telah Pulang. Hilang satu lagi dari tatap mata kita, dari jangkauan kita bhi... Satu persatu para Kekasih dipanggilNya pulang, berlindung dalam bentengNya. Kesempatan kita untuk berdekat-dekat dengan para kekasihNya pun semakin sedikit dan nyaris tak terjangkau.

Bhi... sepertinya kita sudah diharuskan bisa melakukan semuanya sendiri. Karena satu persatu panutan kita dipanggilNya pulang. RinduNya dan rindu padaNya lebih indah untuk ditunaikan Beliau. Tinggallah empat perkara yang harus kita perjuangkan sendiri agar kita dapat selamat sampai tujuan kita... Allah itu sendiri. Benar-benar hanya amalan kita sendiri. Duh Gusti..., dalem nyuwun kawelasan...

"Semoga kita dapat selamat dan diselamatkanNya, kembali ke dalam pangkuanNya. Kembali menjadi kanak-kanak yang manja dan dimanjakanNya. Ammiiiin.
________________________________
Terimakasih terhatur untuk semua teladan yang diberikan pada kami untuk selalu menghadirkanNya di manapun kami berada dan dalam keadaan apapun

May 02, 2005

MAIN PAZEL



"Ma... aku seneng banget main di rumah adek Najla. Di sana banyak pazel. Aku suka yang balon. Ada gambar gajah, jerapah, beruang dan singa yang lagi naik balon udara. Pertamanya susah, tapi aku diajarin adek dan aku akhirnya bisa. Waktu aku sudah selesai, ummi tepuk tangan. Seneng deh. Ini aku dipinjemin pazel balon sama ummi. Soalnya aku tadi nangis waktu disuruh pulang sama tétéh, kan aku masih pingin main pazel yang lain."

"Ayuuh ma ke toko buku. Kata adek Najla di toko buku banyak pazel yang bagus-bagus. Aku gak jajan banyak-banyak lagi deh ma. Kata ummi uangnya di tabung biar aku bisa beli puzel yang banyak kayak adek Najla." Begitulah seorang ibu membisikkan celoteh putranya sebelum tidur.

"Dia belum mau tidur sampai dia betul-betul bisa, Bu. Kalau sudah tersusun, dia bongkar lagi. Begitu terus sampai dia mengantuk. Belum pernah saya, melihat dia begitu tekun mengerjakan sesuatu sampai benar-benar bisa. Di suruh mengerjakan PR saja susah (TK sudah ada PR???...)." Begitu si ibu melanjutkan cerita tentang anaknya.

Bermain. Itulah kegiatan yang paling di sukai balita dan anak-anak usia sekolah. Semakin kita paksa dia untuk belajar maka semakin dia lebih suka bermain. Begitulah keluh banyak ibu padaku. Mereka akan stel muka garang dan suara menggelegar saat menyuruh si anak belajar atau mengerjakan tugasnya. Tidak ada pujian saat mereka berhasil melakukan sesuatu yang bagi mereka sangat berat untuk dikerjakan. Bagi sebagian orang tua di lingkunganku, belajar itu tugas utama anak, mencapai nilai terbaik adalah tanggung jawab mereka. Bisa dibayangkan betapa mencekam dan membosankan suasana belajar mereka.

Bermain sambil belajar, itu yang aku terapkan untuk Najla dan beberapa teman yang sering main ke rumah. Bermain puzel huruf dan angka yang berwarna-warni. Selain melatih motorik, juga bisa untuk mengenalkan warna, mengelompokkan berdasarkan warna yang sama, mengenalkan huruf dan angka secara acak. Semua dilakukan dengan kemauan si anak. Asyik saja melihat mereka begitu antusias berebut huruf-huruf atau angka-angka dengan warna yang sama. Lalu dengan raut muka puas mereka menunjukkan hasilnya padaku. Baru setelah itu aku mengenalkan huruf atau angka yang mereka dapat dan mereka mencocokkannya ke dalam lubang-lubang huruf atau angka yang tersedia.

Saat lain, aku akan bercerita tentang bentuk benda. Ada segitiga, lingkaran, bujur sangkar dan persegi panjang. Setelah itu kami berburu benda-benda dan mengelompokkannya ke dalam bentuk-bentuk yang sama. Selesainya kami menghitung jumlah benda dari masing-masing bentuknya dan mengembalikannya ke tempat semula. Hadiah bagi semua adalah, ucapan betapa bangganya aku pada kepintaran dan kerajinan mereka.

Binar-binar puas bisa melakukan sesuatu dan ingin melakukan sesuatu yang lainnya lagi begitu telihat dari sorot mata mereka.