"ASI untuk anak manusia, susu sapi untuk anak sapi." Aku dan abhi geli membaca himbauan yang ditempel di RSB tempat Najla lahir.
"Ibu-ibu, usahakanlah memberi asi eksklusif kepada bayi anda. Karena asi ibu tidak tergantikan oleh produk susu apapun. Tidak ada alasan asi tidak cukup, karena semua itu sudah di setting olehNya. Kunci keberhasilan dari memberikan asi adalah jangan panic, rileks, penuhi asupan gizi dan dukungan penuh oleh suami. Sebisa mungkin begitu bayi lahir segera tempelkan pada ibu agar refleks menghisapnya tidak hilang dan dapat segera merangsang keluarnya asi ibu. Kalau belum keluar jangan panic, terus rangsang dengan menempelkan mulut bayi pada area menyusu ibu. Bayi-bayi yang baru lahir diberi kemampuan untuk tahan tidak minum apapun selama 24 jam. Jangan lekas diberi susu kaleng, apalagi kalau memakai botol. Itu bisa membuat bayi malas minum asi. Kalau ibu bekerja, perah susu untuk persediaan si bayi. Dan minumnya jangan pakai botol ya Bu." Kata seorang dokter anak dalam sebuah acara talk show yang tak sengaja mampir ke telingaku. (Wah bukan iklan yang bagus untuk susu formula dan botol susu)
"Benar loh ibu, saat-saat indah itu tidak bisa diulang. Jangan takut gemuk atau milik ibu tidak indah lagi. Karena begitu hamil, memang sudah ada perubahan. Suami saya pernah menggoda saya kalau ingin tubuh yang tetap indah ya ndak usah punya anak. Begitu timpal
host yang telah mempunyai anak tiga tapi masih tetap terlihat cantik.
---oOo---
Mendengar bincang-bincang itu membawaku kembali jauh ke belakang. Saat-saat di mana menantikan buah hati lahir. Banyak sekali buku yang aku baca untuk mempersiapkan mentalku menghadapi saat-saat yang dinantikan. Alhamdulillah “Mama” tidak henti mensuportku dengan pengalaman-pengalaman Beliau melahirkan dan membesarkan kedua putra yang sudah menjadi panutan kami juga.
Saat pertamakali najla lahir, wuuuiiiih senengnya gak ketulungan. Alhamdulillah Bapak bisa menengok cucunya lahir. Pertama kali menyusui najla aku panik, karena air susuku tidak keluar. Setelah berhasil aku lebih panik lagi karena Najla tidak berhenti BAB setelah menyusu.
"Aduh..., jangan-jangan diare nih anakku. Gimana nih..??!!!?" Abhi yang sama paniknya denganku menoleh Bapak. Bapak hanya bisa menyarankan kami bertanya pada dokter anak. Waduh... ternyata Bapak sendiri sudah lupa bagaimana mengurusku waktu bayi dulu.
Sebulan pertama setelah najla lahir adalah saat-saat yang paling norak abis. Buku yang aku baca semakin membuat aku panik kalau Najla kenapa-napa. Abhi dan
Mama yang sering jadi sasaran kepanikanku (maaf ya Bhi, maaf ya Ma). Sebentar-bentar aku telpon mama atau abhi untuk membagi kepanikanku menghadapi najla seorang diri tanpa ada referensi hidup yang dapat kutanyai sewaktu-waktu.
"Ma, najla kok BAB terus sewaktu mimi asi? Sudah wid bersihin, tapi kok keluar lagi. Diarekah dia Mam???"Dengan lembut Mama tertawa dan menjawab
"kan memang belum sempurna pencernaannya wid. Mungkin dia belum selesai BAB-nya, jadi ya masih keluar lagi.""OooooooOOhhh..., thanks ya mam."Lain waktu aku telfon abhi
"Bhi..., najla kok muntah ya setiap jam 9 pagi. Byoorrr gitu, banyak banget."Waduh... aku gak ngerti mi. Coba kamu tanya Mama deh." Begitu jawab abhi sama bingungnya. Langsung deh aku telpon Mama dan menyerbunya dengan kepanikanku.
"Mungkin dia terlalu kenyang wid, jadi muntah. Lambungnya kan masih kecil." Begitu mama menenangkanku.
"OooooooOOOhh..., hihihi...thaks ya mam."Tujuh bulan sudah umur Najla. Tiba-tiba dia tidak mau minum asi, kucoba susu formula juga tidak mau. Waduh betapa sedih dan paniknya aku. Kata dokter, Najla sehat dan tidak ada gangguan disaluran pernafasan yang membuat dia enggan untuk minum susu. Temanku bilang,
"Sudah sekalian disapi saja. Simple kan. Orang lain bingung nyapi anaknya, kamu kan enak najla sudah gak mau."Mendengar opini itu aku nangis sejadi-jadinya. Masak sih aku gak dizinkan memberi asi sampai Najla dua tahun.
"Bhi..., tanya Papa dan Mama yuuuuuk." Begitu rengekku. Segera abhi mengunjungi Papa dan Mama.
Waktu abhi pulang aku langsung bertanya
"Bagaimana bhi...???"Abhi tersenyum dan bilang,
"tenang saja. Berdoa sama Allah. Insyaallah besok Najla sudah pulih karena Najla gak sakit kata dokter. Itu biasa kok. Begitu pesan Papa dan Mama."Alhamdulillah, Najla tidak jadi berhenti asi sampai dia berumur dua tahun tiga bulan. Yang tiga bulan adalah masa-masa mengurangi jatahnya minum asi sedikit demi sedikit.
Alhamdulillah hasilnya, najla tidak mudah sakit. Najla sangat aktif dan pintar. Jadi jangan ragu untuk memberikan asi selama waktu yang disunahkan Nabi.
Alhamdulillah, atas ijinNya, aku benar-benar bisa hanya memberi asi tanpa susu formula untuk Najla selama dua tahun. Juga untuk adanya abhi, Papa dan Mama serta Bapak yang tidak berhenti mensupport aku.